Day in My Life: Freelancer Edition — Begini Hari-Hari Saya Bekerja Tanpa Kantor

Pukul 07.30 pagi, alarm berbunyi. Saya tidak langsung bangun. Layar ponsel menyala, notifikasi dari klien sudah masuk tiga — dan satu di antaranya bertanda seru merah. Begitulah pembukaan hari saya sebagai seorang freelancer yang juga masih berstatus mahasiswa akhir.
Banyak orang membayangkan hidup freelancer itu bebas, fleksibel, bisa kerja dari mana saja sambil menyeruput kopi di kafe estetik. Sebagian memang benar. Tapi sebagian lagi? Jauh dari romantis.
Saya ingin mengajak kamu melihat seperti apa rutinitas harian saya — bukan versi yang dipercantik untuk media sosial, melainkan versi jujur dengan segala kekacauannya. Anggap saja ini semacam panduan tidak resmi kalau kamu sedang mempertimbangkan jalur serupa.
Pagi: Ritual Sebelum Mulai Bekerja
Mungkin kamu suka: Organizing Isi Kulkas Estetis: Bukan Sekadar Gaya-Gayaan, Ini Soal Kewarasan
Saya biasanya benar-benar mulai duduk di depan laptop sekitar pukul 08.30. Sebelum itu, ada ritual kecil yang saya pertahankan: mandi, sarapan sederhana (biasanya roti atau nasi goreng sisa semalam), dan — ini yang paling penting — menulis to-do list di buku catatan fisik.
Kenapa buku fisik, bukan aplikasi? Saya pribadi lebih suka menulis tangan karena rasanya lebih “mengikat”. Kalau di aplikasi, saya cenderung mengabaikan notifikasinya. Aneh memang, tapi begitulah cara otak saya bekerja.
Daftar tugas harian saya biasanya berisi:
- Proyek utama yang tenggat waktunya paling dekat
- Revisi dari klien (yang kadang datang tanpa ampun)
- Tugas kuliah — ya, ini masih ada dan tidak bisa diabaikan
- Satu hal kecil untuk pengembangan diri, misalnya membaca satu artikel tentang pekerja lepas atau menonton tutorial singkat
Siang: Jam Produktif (dan Jam Paling Menguji)
Pukul 10.00 hingga 13.00 adalah waktu paling produktif bagi saya. Entah kenapa, konsentrasi saya paling tajam di rentang ini. Saya biasanya mengerjakan tugas yang paling berat lebih dulu — menulis artikel panjang, mendesain, atau menyusun proposal untuk klien baru.
Sayangnya, di jam-jam ini pula godaan paling besar muncul. Teman mengirim tautan video lucu. Media sosial memanggil. Kucing tetangga naik ke jendela kamar (ini benar-benar terjadi).
Saya pernah membaca bahwa salah satu tantangan terbesar freelancer adalah menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi. Saya sangat setuju. Ketika rumah adalah kantor, batas antara “sedang bekerja” dan “sedang santai” menjadi sangat tipis. Pernah suatu kali saya baru sadar sudah bekerja tujuh jam tanpa istirahat — dan di lain hari, saya hanya produktif selama dua jam karena terus-menerus terdistraksi.
Apakah ada solusi sempurna untuk masalah ini? Jujur, saya belum menemukannya. Yang saya lakukan sekarang adalah memakai teknik Pomodoro — bekerja 25 menit, istirahat 5 menit — dan itu cukup membantu, meskipun tidak selalu konsisten.
Sore: Revisi, Komunikasi, dan Sedikit Panik
Setelah makan siang (biasanya pukul 13.30, kadang lebih telat), saya masuk ke fase yang saya sebut “fase administrasi”. Membalas pesan klien. Mengirim invoice. Mengejar pembayaran yang terlambat. Ya, mengejar pembayaran — bagian yang jarang dibicarakan tapi sangat nyata.
Saya pernah membandingkan beberapa platform untuk mengelola proyek: Trello, Notion, bahkan Google Sheets sederhana. Masing-masing punya kelebihan. Tapi saya akhirnya menetap di Notion karena fleksibilitasnya — saya bisa menggabungkan catatan, jadwal, dan daftar klien dalam satu tempat. Meskipun, harus saya akui, learning curve-nya di awal cukup curam.
Di fase sore ini juga saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah jalur ini benar? Apakah saya seharusnya mencari pekerjaan tetap saja setelah lulus? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, yang terasa berat dan sering datang tanpa diundang, memang menjadi bagian dari pergulatan khas usia dua puluhan yang banyak dari kita alami.
Malam: Antara Lembur dan Menyerah
Pukul 19.00 ke atas seharusnya menjadi waktu istirahat. Seharusnya.
Kenyataannya, saya sering masih membuka laptop di jam ini. Entah karena tenggat waktu yang mendesak, atau karena siang tadi tidak cukup produktif. Ini bukan kebiasaan sehat, dan saya sadar itu. Tapi tekanan finansial dan keinginan untuk membuktikan bahwa menjalani side hustle atau pekerjaan lepas itu layak — kadang membuat saya mendorong diri terlalu jauh.
Yang saya pelajari (dengan cara yang agak keras): tubuh punya batasnya. Pernah satu minggu saya begadang setiap malam untuk mengejar tiga proyek sekaligus. Hasilnya? Sakit, kualitas kerja menurun, dan satu klien justru kecewa karena hasil revisi yang tidak teliti.
Sejak saat itu, saya menetapkan aturan sederhana: maksimal bekerja sampai pukul 21.00. Setelah itu, apa pun yang belum selesai, harus menunggu esok hari. (Kecuali benar-benar darurat — dan “darurat” di sini harus benar-benar darurat, bukan darurat buatan sendiri.)
Hal-Hal yang Tidak Terlihat
Ada satu aspek dari kehidupan freelancer yang jarang terlihat dari luar: kesepian. Tidak ada rekan kerja untuk diajak berdiskusi spontan. Tidak ada ruang rapat yang ramai. Yang ada hanyalah saya, laptop, dan sesekali panggilan video yang koneksinya putus-putus.
Saya mengatasinya dengan bergabung ke beberapa komunitas daring sesama pekerja lepas. Bukan untuk proyek — murni untuk berbincang dan berbagi keluhan. Terdengar sepele, tapi dampaknya besar terhadap kesehatan mental.
Beberapa Hal yang Menurut Saya Perlu Kamu Tahu Sebelum Jadi Freelancer
- Penghasilan tidak stabil. Bulan ini mungkin melimpah, bulan depan bisa sangat kering.
- Kamu adalah segalanya. Bagian pemasaran, keuangan, produksi, dan layanan pelanggan — semua ada di pundak sendiri.
- Disiplin diri bukan pilihan, melainkan keharusan. Tanpa atasan yang mengawasi, satu-satunya orang yang bisa memastikan pekerjaan selesai adalah diri sendiri.
- Mengatakan “tidak” adalah keterampilan. Tidak semua proyek layak diambil, terutama yang bayarannya tidak sepadan dengan usaha.
Kalau kamu bertanya apakah saya menyesal memilih jalur ini — jawabannya tidak. Bukan karena semuanya mudah, tapi karena saya belajar lebih banyak tentang diri saya sendiri dalam setahun terakhir dibandingkan empat tahun sebelumnya. Fleksibilitas yang ditawarkan memang nyata, asalkan kamu bersedia membayar harganya berupa tanggung jawab penuh atas setiap aspek pekerjaan.
Dan besok pagi, alarm akan berbunyi lagi di pukul 07.30. Notifikasi klien mungkin sudah menunggu. Siklus yang sama, dengan tantangan yang sedikit berbeda. Tapi justru di situlah menariknya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Berapa jam rata-rata seorang freelancer bekerja dalam sehari?
Sangat bervariasi, tapi dari pengalaman saya, rata-rata sekitar 6 hingga 8 jam per hari. Bedanya dengan pekerja kantoran, jam-jam tersebut tidak selalu berurutan — kadang terpecah-pecah sepanjang hari tergantung kondisi dan tenggat waktu.
Apakah menjadi freelancer cocok untuk mahasiswa yang masih aktif kuliah?
Bisa, asalkan kamu pandai mengatur waktu dan realistis dalam mengambil proyek. Saya sendiri pernah kewalahan ketika menerima terlalu banyak pekerjaan di tengah masa ujian, jadi penting untuk mengetahui kapasitas diri sendiri.
Platform apa yang paling cocok untuk freelancer pemula?
Saya menyarankan untuk mencoba beberapa platform sekaligus — seperti Upwork, Fiverr, atau Sribulancer untuk pasar lokal — lalu lihat mana yang paling sesuai dengan jenis keahlian dan kenyamanan kamu. Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang.
Artikel Terkait
Suka Duka Punya Side Hustle: Cerita Jujur dari Mahasiswa yang Nyoba Semua
Suka duka punya side hustle dari sudut pandang mahasiswa akhir — cerita jujur soal uang, waktu, dan hal-hal…
