jimat69 jimathoki jimathoki kapuas88 kapuas88 kapuas88 kapuas88 kapuas88 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 koplo77 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 ombak700 roket700 roket700 roket700 roket700 roket700 roket700
Hot
Karier

Suka Duka Punya Side Hustle: Cerita Jujur dari Mahasiswa yang Nyoba Semua

Suka Duka Punya Side Hustle

Gue mulai punya side hustle sejak semester lima. Bukan karena terinspirasi kisah sukses siapa pun di internet, tapi karena — jujur saja — uang bulanan dari orang tua sudah tidak cukup lagi untuk menutup biaya hidup yang makin naik tiap bulan. Awalnya cuma iseng jual jasa desain di platform freelance. Lama-lama, ternyata hal ini membuka banyak pintu yang tidak gue sangka sebelumnya — sekaligus menutup beberapa pintu lain yang seharusnya tetap terbuka.

Pertanyaan Pertama yang Selalu Muncul: Emang Sempat?

Ini pertanyaan klasik. Teman-teman gue pasti nanya ini duluan. Jawabannya: sempat dan tidak sempat, tergantung bagaimana lo mendefinisikan “sempat.” Kalau yang dimaksud adalah punya waktu luang yang nyaman, santai, bisa buka laptop tanpa tekanan — maka tidak, gue tidak sempat. Tapi kalau yang dimaksud adalah secara teknis masih bisa dikerjakan di sela-sela jadwal kuliah dan tugas, maka ya, sempat.

Masalahnya begini. Waktu yang tersedia itu bukan waktu berkualitas. Gue sering mengerjakan pesanan desain jam dua pagi setelah menyelesaikan makalah. Mata sudah berat. Otak sudah lambat. Hasilnya? Kadang bagus, kadang… ya begitulah. Revisi menumpuk.

“Tapi Uangnya Worth It Kan?”

Pertanyaan kedua yang paling sering gue dengar. Dan ini bagian yang menarik karena jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak.”

Uangnya memang membantu. Sangat membantu malah. Gue bisa bayar langganan software sendiri, sesekali traktir teman, dan yang paling penting — mulai sisihkan sedikit untuk investasi kecil-kecilan. (Soal ini, gue pernah baca panduan yang cukup masuk akal tentang cara mengatur keuangan supaya tetap surplus meskipun pemasukan terbatas, dan ternyata prinsipnya berlaku juga buat mahasiswa yang penghasilannya belum stabil.)

Artikel lainnya: Trend Musik TikTok Minggu Ini: Lagu Apa Aja yang Bikin Gue Scroll Tanpa Henti?

Tapi ada satu hal yang kontra-intuitif: semakin banyak uang yang gue hasilkan dari side hustle, semakin boros gue jadinya. Aneh, kan? Gue pikir ini terjadi karena ada semacam ilusi kelimpahan — merasa “toh bisa cari lagi” — jadi pengeluaran ikut naik tanpa disadari. Menurut data dari survei Bankrate tahun 2023, sekitar 56% pekerja side hustle di Amerika Serikat menggunakan penghasilan tambahannya untuk menutupi pengeluaran sehari-hari, bukan untuk menabung atau investasi. Gue curiga pola yang sama terjadi di sini.

Kalau Kerja Sampingannya Remote, Gimana?

Nah, ini pertanyaan yang sering muncul dari teman-teman yang tertarik ikut-ikutan. Gue pribadi lebih suka side hustle yang sifatnya remote karena fleksibilitas waktunya jauh lebih besar dibanding, misalnya, jadi barista paruh waktu di kafe (yang pernah juga gue coba selama tiga bulan — capek luar biasa). Kalau lo penasaran soal opsi-opsi kerja remote yang benar-benar menghasilkan, gue sarankan baca pengalaman kerja sampingan remote yang beneran bawa dolar karena pembahasannya cukup konkret, bukan sekadar daftar generik.

Remote itu enak. Tapi remote juga berbahaya. Kenapa? Karena batas antara “waktu kerja” dan “waktu istirahat” jadi kabur total. Lo bisa saja sedang menonton film dengan teman, tapi pikiran melayang ke klien yang belum dibalas pesannya. Laptop selalu di dekat lo. Notifikasi tidak pernah berhenti.

Dukanya Apa Sih yang Paling Terasa?

Kalau gue harus pilih satu saja, jawabannya: kehilangan waktu sosial. Bukan lebay. Ini nyata.

Semester enam, gue menolak tiga undangan nongkrong dalam satu minggu karena harus mengejar deadline klien. Semester tujuh, gue hampir tidak hadir di acara ulang tahun sahabat sendiri. Hubungan dengan teman-teman jadi renggang — bukan karena konflik, tapi karena gue yang tidak pernah ada.

Gue baru sadar belakangan bahwa menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi itu bukan cuma urusan pekerja kantoran. Mahasiswa dengan side hustle juga butuh itu. Mungkin malah lebih butuh, karena kita belum punya sistem pendukung yang solid — belum ada HR yang mengingatkan soal cuti, belum ada rekan kerja yang bilang “udah pulang aja.”

Terus, Sukanya Apa Selain Uang?

Ada beberapa hal yang jarang dibahas orang.

Baca juga: Hunting Foto Analog di Kota: Pertanyaan-Pertanyaan yang Selalu Muncul di Kepalaku

  • Skill yang berkembang cepat. Gue belajar negosiasi, komunikasi dengan klien, manajemen waktu — semua hal yang tidak diajarkan di kelas mana pun.
  • Rasa percaya diri. Mengetahui bahwa ada orang di luar sana yang mau membayar untuk kemampuan lo — itu rasanya luar biasa.
  • Portofolio. Ketika teman-teman lain baru mulai bikin CV menjelang wisuda, gue sudah punya daftar proyek yang bisa ditunjukkan.

Gue pribadi lebih menghargai perkembangan skill dibanding uangnya sendiri karena, kenyataannya, penghasilan dari side hustle mahasiswa itu fluktuatif — bulan ini lumayan, bulan depan bisa nol. Tapi skill yang sudah melekat di kepala, itu tidak akan hilang.

Jadi, Worth It atau Tidak?

Pertanyaan ini sebenarnya salah. Yang lebih tepat: untuk siapa ini worth it, dan dalam kondisi apa?

Kalau lo masih semester awal dan beban akademik masih berat, mungkin lebih bijak untuk fokus dulu. Tapi kalau lo sudah di fase di mana jadwal mulai longgar dan lo butuh pengalaman nyata di luar kampus — side hustle bisa jadi pilihan yang sangat masuk akal. Asalkan lo tahu kapan harus berhenti, kapan harus bilang “tidak” ke klien, dan kapan harus menutup laptop lalu tidur.

Gue belum sempurna dalam hal itu. Masih sering begadang. Masih sering lupa makan karena keasyikan kerja. Tapi setidaknya gue sudah mulai belajar bahwa side hustle yang baik adalah yang melayani hidup lo — bukan sebaliknya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah side hustle bisa mengganggu nilai akademik?

Bisa, kalau lo tidak pandai membagi waktu. Gue sendiri pernah mengalami penurunan IPK di satu semester karena terlalu fokus pada pekerjaan sampingan. Kuncinya memang disiplin dalam menetapkan prioritas.

Side hustle apa yang paling cocok untuk mahasiswa?

Tergantung skill dan jadwal lo. Gue lebih merekomendasikan yang sifatnya remote dan berbasis proyek — seperti desain, penulisan, atau penerjemahan — karena fleksibilitasnya lebih tinggi dibanding kerja paruh waktu dengan jam tetap.

Berapa lama waktu yang ideal untuk side hustle per minggu?

Gue rasa 10-15 jam per minggu sudah cukup banyak untuk mahasiswa. Lebih dari itu, lo kemungkinan besar akan mengorbankan waktu tidur atau waktu sosial, dan dua-duanya penting untuk kesehatan mental.

Bagikan

risky moh

Kontributor Arus Urban yang menulis tentang tren, gaya hidup, dan dinamika kota.

Baca juga

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *